Yang paling aku benci ketika pergi adalah pulang, karena
setiap menuju pulang aku selalu mengingatmu tak seperti kebanyakan anak lain
yang ketika pulang mereka selalu disambut oleh senyuman hangat oleh keluarga
mereka, bukan aku tak memiliki keluarga
tetapi keluargaku yang tak pernah menganggapku ada, ayah.. semua orang
pasti memiliki seorang ayah, tapi disini aku tak memiliki dan hanya sekejap
saja merasakan kasih sayang seorang ayah mungkin itu yang membuatku sampai
sekarang masih mengenang beliau walaupun kini aku memiliki seorang ayah tiri
tapi menurutku ia tak pantas untuk disebut ayah, ia berdeda dengan ayahku
sendiri.
Ayah aku rindu dengan ayah aku tak tau lagi harus seperti
apa menyikapi hidup ini, hal ini tak seperti seorang yang lagi putus cinta, ini labih kepada setitik cinta yang mati. Entah apa
yang selalu aku pikirkan singkat kata aku tak pernah bahagia selama engkau
meninggalkanku ayah, aku tak berdaya melewati garis hidup dimana aku harus
berjuang seorang diri melewati lika liku kehidupan dengan beban yang seperti
ini. Lebih mudah aku membuat orang lain tertawa sehingga aku membuat mereka
melukiskan senyuman indah di wajah mereka, apakah ayah dulu seperti itu? Aku mulai
gila bertanya kepada orang yang raganya sudah berada didasar tanah.
Yang aku ingin hanya merubah nasibku yang lebih baik lagi tanpa
harus merepotkan orang lain lagi dan aku bisa mebuat ayah tersenyum disana dan
aku berharapa semoga aku bisa melihat senyuman indah itu walau hanya sekejap
saja. Mungkin hanya sepi yang kurasakan saat aku menulis ini semoga ayah disana
dapat melihat ini semua dan ayah tidak marah dengan jalan hidup yang kujalani
saat ini karena mungkin sangat berbeda jauh dengan yang selama ini ayah
harapakan dariku karena aku tak pernah mendapatkan didikan darimu langsung,
kalaupun semua keluarga membenciku karena aku adalah seorang laki laki yang
harus memiliki prinsip hidupku sendiri, aku akan terus menjadi diriku sendiri
tak perduli orang akan berkata apa.