Sabtu, 18 Februari 2017

Pulang

Standard


Yang paling aku benci ketika pergi adalah pulang, karena setiap menuju pulang aku selalu mengingatmu tak seperti kebanyakan anak lain yang ketika pulang mereka selalu disambut oleh senyuman hangat oleh keluarga mereka, bukan aku tak memiliki keluarga  tetapi keluargaku yang tak pernah menganggapku ada, ayah.. semua orang pasti memiliki seorang ayah, tapi disini aku tak memiliki dan hanya sekejap saja merasakan kasih sayang seorang ayah mungkin itu yang membuatku sampai sekarang masih mengenang beliau walaupun kini aku memiliki seorang ayah tiri tapi menurutku ia tak pantas untuk disebut ayah, ia berdeda dengan ayahku sendiri.

Ayah aku rindu dengan ayah aku tak tau lagi harus seperti apa menyikapi hidup ini, hal ini tak seperti seorang yang lagi putus cinta, ini  labih kepada setitik cinta yang mati. Entah apa yang selalu aku pikirkan singkat kata aku tak pernah bahagia selama engkau meninggalkanku ayah, aku tak berdaya melewati garis hidup dimana aku harus berjuang seorang diri melewati lika liku kehidupan dengan beban yang seperti ini. Lebih mudah aku membuat orang lain tertawa sehingga aku membuat mereka melukiskan senyuman indah di wajah mereka, apakah ayah dulu seperti itu? Aku mulai gila bertanya kepada orang yang raganya sudah berada didasar tanah. 

Yang aku ingin hanya merubah nasibku yang lebih baik lagi tanpa harus merepotkan orang lain lagi dan aku bisa mebuat ayah tersenyum disana dan aku berharapa semoga aku bisa melihat senyuman indah itu walau hanya sekejap saja. Mungkin hanya sepi yang kurasakan saat aku menulis ini semoga ayah disana dapat melihat ini semua dan ayah tidak marah dengan jalan hidup yang kujalani saat ini karena mungkin sangat berbeda jauh dengan yang selama ini ayah harapakan dariku karena aku tak pernah mendapatkan didikan darimu langsung, kalaupun semua keluarga membenciku karena aku adalah seorang laki laki yang harus memiliki prinsip hidupku sendiri, aku akan terus menjadi diriku sendiri tak perduli orang akan berkata apa.

Masih ..

Standard
   Mendengar lagu Surat cinta untuk starla membuat ku kembali bertanya pada diriku mengapa hati ku memlilihmu? mata tak bosan melihatmu, otak tak henti memikirkan tentangmu dan bibir yang selalu tersenyum melihatmu, dan semenjak kapan malaikat menancapkan anak panahnya di hatiku untuk terus mencintaimu. Setiap hari aku merasa aneh dengan diriku, aku hanya melihatmu dari sosial media yang ada tapi aku merasa melihatmu secara langsung, seakan dengan menekan tombol cinta disetiap fotomu membuatku merasa dapat menyentuhmu dengan meninggalkan komen aku merasa mengobrol denganmu walaupun kau jauh aku merasa selalu berada didekatku, entah mengapa? aku pun selalu bertanya pada diri ini bagai berbicara dengan sebuah tembok besar suara kita akan kembali dan tanpa ada jawaban satupun
    Mencinta macam apa yang kujalani saat ini, aku mencintai seseorang tetapi orang tersebut sudah menemukan pangerannya sendiri aku hanya seorang algojo yang memujanya dari jauh. Tanpa ia sadari aku selalu mencinta dibelakangnya. meskipun begitu aku bersyukur bisa melihatmu bahagia dengannya, munafik memang ku akui itu tapi apa yang bisa kulakukan selain mencitaimu dengan cara ku ini,  mengungkapkan perasaan ku selama ini? tak menjamin kau mau menerima dan bahagia bersamaku. aku hanya laki - laki biasa yang jauh dengan hidupmu yang bergelimang harta.

Rabu, 15 Februari 2017

HUJAN

Standard
Tetes demi tetes air hujan mulai membasahi bumi... seperti biasa engkau mulai keluar dengan sepeda yang kau tuntun perlahan, dari jauh aku hanya bisa memandangi sebuah anugrah terindah yang tuhan telah ciptakan, melangkah pasti meninggalkan ku tanpa melihat sedetikpun ke arahku. Aku tak marah ataupun kecewa, aku bahagia saat engkau tersenyum manis dengan tahi lalat berada dibawah bibir yang indah di tengah rintikan hujan yang membasahi baju coklat kala itu.. ingin rasanya mendampingimu berjalan menyusuri jalanan yang beraromakan tanah saat terguyur hujan, aneh memang mecintai seseorang tapi tak ingin orang itu tau perasaan kita yang sebenarnya.. tapi aku punya cara tersendiri untuk mencintai, mungkin denganj cara yang seperti ini aku bisa memiliki bayanganmu walaupun tak memiliki raga ataupun hatimu dengan membuatmu selalu tersenyum seperti itu pun aku merasa hidup, kenapa tidak bersama ? mungkin jika itu terjadi aku tak akan bisa membuatmu selalu tersenyum seperti saat ini, mungkin aku membuat pipimu yang indah dengan tetsan air matamu karena hidupku, biarlah pangeranmu yang membahagiakanmu aku hanya bertugas untuk membuatmu tersenyum dan menikamatinya bukan untuk memiliki senyuman itu. 

Berbagai cinta kujalani hanya untuk melupakanmu, tapi itu hanya membuatkan selalu membuatku mengingatkanku akan hujan yang membuat kau berada dibelakang memegang pundakku mengendarai sepeda BMX kecil berwarna merah tatkala itu. Tak berhenti senyumku ini menempel rapat dibibirku, hujan makin menjadi alasanku untuk lebih lama lagi bersama mu, apapun yang akan terjadi sepulangku aku tak perduli asalkan aku hari itu bisa melihat wajah cantiku yang terkena deraian air hujan dan kau membasuhnya dengan lembut, dan saat itulah aku tahu aku sangat mencintaimu.. mencintaimu dalam diamku. Banyak orang bilang aku bodoh karena aku mencintaimu seperti itu, tapi aku percaya tuhan jikalau ia memang tercipta untuuku maka sutau saat ia akan mengetahui cintaku ini padanya dan ia akan tahu penantian ini.

Jumat, 10 April 2015

Cerita Hari Ini

Standard
D

imana? Dimana kamu berada? Apa yang sedang kamu lakukan?, sejenak aku merasa gila dengan semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang saat ini sedang berputar – putar mengelilingi kepalaku, beberapa hari ini gendang telingaku tak semerdu hari kemarin saat ku mendengar kabar yang kau ucapkan dengan bibir manismu, seakan telingaku mati semati – matinya dan sungguh itu membuat semua organ tubuhku merasakan hal yang sama. Bimbang, bingung, penesaran dan curiga tercampur menjadi satu kesatuan, sempat berfikir apakah ini semua akan berakhir begitu saja? Apa aku harus bersabar yang sangat lama? Atau apa? Aku harus apa?. Ku hanya terpaku memandangi smartphone ku berharap di taskbar tercantum namamu sedang memberiku sebuah kabar yang sedang aku tunggu kedatangannya, tapi apa dayaku? Aku hanya seorang yang mengemis – ngemis cinta kepadanya karena ku sadar akan keadaanku yang tak ada sebutirpun emas yang menempel ditubuhku, tak ada aroma mawar dikulitku dan tak ada pula cairan berlian dalam darahku. Hanyalah aku seorang anak yang tak berparas dan tak berotak yang mencintaimu dengan ketulusan hati ini, percayalah dengan hati ini. Hati ini tak akan berdusta ataupun berpaling dari satu arah untuk waktu yang lama atau mungkin selamanya, tapi sekarang kau menghilang tanpa jejak entah kemana, mungkinkah kau berpaling kepada lelaki yang lebih gagah nan rupawan? Lelaki yang memang menjadi idaman setiap kaum hawa, engkau berhak memilih hidupmu dan menentukan masa depanmu, dan asal engkau tahu aku akan menunggumu hingga titik jenuhku telah melebihi batasku dan benar – benar menghiraukanmu dalam hidupku.